Indonesiakitanews.com – Penajam. Hari ini, Jumat, 07/03/2025 para terlapor terduga penyegelan keran air di Rumah Jabatan (Rumjab) Bupati Penajam Paser Utara (PPU) mendatangi kantor Polres Penajam.
Ada empat orang terlapor yang mana dua diantaranya adalah ketua RT dan satu lagi adalah ketua LPM Keluarahan Sei Parit, Kecamatan Penajam.
Ketua RT. 1 sebagai salah satu terlapor menjelaskan kepada media ini bahwa sebenarnya permasalahan terkait dengan penyegelan keran air di Rumjab tersebut telah selesai karena telah terjadi pertemuan antara Bupati dengan warga saat acara buka puasa bersama di Rumjab. Pabrik Sepatu Seragam Rumah Sakit
“Masyarakat sempat heboh terkait dengan adanya informasi pemanggilan dari pihak polres kepada kami, karena sebenarnya ini sudah dianggap selesai, kami (warga) sudah meminta maaf kepada pak Bupati dan menjelaskan duduk perkaranya hingga terjadi penyegelan, kami melihat bahwa pak Bupati menerima kami dengan baik dan beliau juga menyikapi permasalahan tersebut secara bijaksana,” ungkapnya.
“Wajar kalau warga marah dan kecewa, karena sudah terlalu lama hanya dijanji-janji saja oleh pihak dinas PU dan PDAM, tapi tidak pernah ada realisasi. Puncak kekecewaan warga ya ketika mengetahui adanya instalasi air yang dipasang menuju Rumah Jabatan dan PDAM mengalirkan air di Rumah Jabatan, tetapi warga tidak mendapatkan aliran air,” tambahnya.
Disinggung mengenai siapa yang melaporkannya ke pihak kepolisian, pria yang akrab disapa Papa RT. 1 itu mengaku sudah mengetahui siapa dalang dibalik pelaporan tersebut.
“Jadi ada provokasi yang dilakukan oknum tertentu yang kami sudah ketahui identitasnya, seolah-olah kegiatan penyegelan meresahkan warga, padahal aksi penyegelan itu adalah aksi protes biasa dialam demokrasi seperti ini. Toh tidak ada anarkisme dan pengrusakan, hanya penyegelan saja sebagai bentuk protes terhadap kinerja dinas PU dan PDAM,’ katanya.
Ia menambahkan, “Saya sudah menelepon pihak yang namanya tertera sebagai pelapor, ternyata berdasarkan pengakuan pelapor, ia ingin mencabut laporan tetapi dihalangi oleh seseorang bernama “Aan”. Selain oknum bernama Aan ini ada satu lagi oknum yang diduga sebagai aktor intelektual dari pelaporan ini, ya tujuannya apalagi kalau bukan cari muka dihadapan Bupati,” ujarnya menambahkan.
Semua terlapor mengaku heran atas adanya panggilan dari kepolisian itu, karena sepengetahuan mereka, semua hal sudah dibahas bersama BUpati dan warga pun telah menyampaikan permohonan maaf yang disambut baik oleh Bupati.
Meskipun demikian, empat terlapor yang terdiri dari dua orang ketua RT, ketua LPM Sei Parit dan Lurah Sei Parit tetap datang memenuhi panggilan dari pihak kepolisian.
Adalah Roland, Ketua LPM Sei Parit yang memberikan informasi terkait materi yang ditanyakan penyidik kepadanya.
“Jadi seharusnya saya diminta klarifikasi hari Senin, tapi saya pikir terlalu lama, lebih baik langsung saja bersamaan dengan terlapor lainnya,” ungkapnya.
“Saya diminta klarifikasi sekitar 40 menitan tadi, yang ditanyakan memang hanya terbatas pada siapa saja yang melakukan penyegelan, pihak kepolisian juga menanyakan siapa yang menjadi penggerak aksi, saya jelaskan, bahwa tidak ada yang menggerakkan, karena ini adalah murni keinginan warga sendiri sebab berkaitan dengan hajat hidup warga, yakni masalah air bersih,” ujarnya menambahkan.
Roland mengaku menyayangkan adanya keterlibatan dari orang-orang atau “oknum” yang ada dilingkaran Bupati dan menjadi aktor intelektual pelaporan terhadap aksi warga.
“Saya kira pak Bupati harus disterilkan dari oknum-oknum yang suka mengatasnamakan tim sukses dan mengaku orang dekat Bupati tetapi melakukan tindakan yang merusak nama baik BUpati,” terangnya.
Menurutnya, tindakan semacam ini, membangun kesan ditengah masyarakat bahwa Bupati kita orang yang tega ingin memenjarakan rakyatnya sendiri.
“Kasian pak Bupati, seolah-olah beliau melaporkan dan hendak memenjarakan warganya, padahal kami yakin beliau tidak tahu menahu perihal pelaporan ini, pelakunya pun hanya orang yang kebetulan tergabung jadi tim ses, tapi ini bisa menimbulkan kesan bahwa Bupati kita orang yang tega, jadi akibat perilaku oknum yang mengaku dekat dan tim ses, nama baik Bupati tercoreng,” bebernya.
Ketua LPM itu berpesan agar aktor-aktor intelektual yang ada dibalik pelaporan dirinya dan beberapa orang lainnya dapat berpikir lebih jernih.
“Mereka itu kan orang-orang terdidik, ada yang sarjana hukum, ada yang mantan komisioner KPU, kenapa tidak memiliki kepekaan sosial. Orang-orang yang dilaporkan itu adalah mereka yang punya keluarga dan kehidupan sendiri, terlebih lagi yang dituntut itu hak dasar warga yaitu kebutuhan akan air bersih, seharusnya jika mereka orang dekat Bupati, mereka bisa jadikan itu sarana untuk membantu masyarakat bukan malah mencelakai masyarakat.” Pungkasnya.
Kasim Assegaf, Ketua LSM Guntur menanggapi perihal kehadiran para terlapor ke kantor polisi.
“Saya salut dengan mereka semua, dengan kehadiran mereka di kantor polisi hari ini, itu membuktikan bahwa yang kemaren mereka lakukan yakni penyegelan tidaklah didasarkan atas niat jahat melainkan bentuk protes semata atas janji-janji pemerintah untuk mengalirkan air namun tak kunjung terjadi,” Ungkap Kasim.
Kasim menambahkan, “Kami dari LSM Guntur masih memonitor terus perkembangan dari kasus ini, dan saya yakin pihak kepolisian tidak akan melihat ini sebagai tindakan kriminal, karena memang tidak ada pengrusakan, yang ada hanya penyegelan sebagai bentuk protes,” tambahnya.
Pria yang akrab disapa Habib itu juga menghimbau kepada semua pihak terutama kepada pihak-pihak yang mengaku dekat dengan Bupati, agar tidak melakukan manuver yang bisa merusak nama baik Bupati.
“Bupati kita ini baru mulai bekerja, berikan ketenangan dan kenyamanan bagi bliau dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab membangun PPU, jangan ada oknum-oknum yang mengaku tim ses tapi tindakan merusak nama baik Bupati, mengaku orang dekat Bupati tapi justeru membuat gerah suasana. Akibat dari pelaporan ini, akhirnya ada saja orang yang berpendapat seolah BUpati kita kejam dan tega melaporkan warganya, eh ternyata kan perbuatan oknum yang mengaku-ngaku dekat pak Bupati, sudahlah, itu perilaku norak dan harus dihentikan,” tegasnya.(red.HAI)








